TUMBUHAN YANG BUNGANYA DIGUNAKAN DALAM UPACARA ADAT

Standar

TUMBUHAN BERDASARKAN FUNGSI YAITU

TUMBUHAN YANG BUNGANYA DIGUNAKAN DALAM UPACARA ADAT

Tugas ini untuk memenuhi tugas taksonomi tumbuhan tinggi II (TTT II).

Dosen pengampu:

Drs. Sulisetjono, M. Si

Di Susun oleh:

  1. Nadia sabrina (10620076)
  2. Evi susanti      (10620095)
  3. Siti mali’ah     (10620107)

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK

IBRAHIM MALANG

2012

BAB.I

PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang

            Tumbuhan yang ada di dunia sangat beraneka ragam. Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari tumbuhan, baik itu tumbuhan sebagai obat , sebagai bahan sandang, bahan perumahan, sebagai tanaman hias dan sebagainya. Manusia berkecimpung dalam dunia tumbuhan , mengidentifikasi, memberi nama dan mengelompokknnya menurut tujuannya masing-masing.

Taksonomi tumbuhan merupakan ilmu yang mempelajari identifikasi, tatanama dan klasifikasi tumbuhan. Kata taksonomi sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu taxis (susunan, penyusunan, penataan) atau taxon (setiap unit yang digunakan  dalam klasifikasi obyek biologi) dan nomos (hukum). Pengertian taksonomi dan sistematik seringkali dianggap sebagai sinonim. Sistematik berasal dari kata latin yaitu systema yang berarti cara penyusunan atau cara penataan. Namun demikian, ada diantara para ahli yang berpendapat bahwa taksonomi tidak sepenuhnya sama dengan sistematik.

Di alam ini terdapat berbagi jenis keanekaragaman, salah satunya adalah tumbuhan yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat. Baik itu fungsi yang terkait dengan fungsi ekologis maupun fungsi bagi manusia. Dalam hal ini kita akan banyak bicara atau membahas mengenai tumbuh-tumbuhan yang bunganya digunakan atau dimanfaatkan dalam upacara adat. Selain itu kita akan membahs  mengenai sistematika dari tumbuhan tersebut. Bunga yang biasa atau sering dipakai atau digunakan dalam upacara adat, antara lain yaitu bunga kenanga, bunga mawar, bunga melati, bunga kamboja, bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.), dan bunga sedap malam (Polianthes tuberosa).

1.2.Tujuan

  1.  Untuk mengetahui  manfaat dari beberapa spesies bunga berdasarkan fungsi.
  2.  Untuk mengetahui sistematika dari beberapa spesies bunga berdasarkan fungsi.
  3. Untuk mengetahui karakteristik dari masing-masing bunga berdasarkan fungsi. 

BAB II.

PEMBAHASAN

2.1. BUNGA SEPATU (Hibiscus rosasinensis  L.)

A.Foto

B. Sistematika taksonomi

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Hibiscus
Spesies: Hibiscus rosasinensis L.

C.Deskripsi

  1. Morfologi

Hibitus : Perdu, tahunan, tegak, tinggi ± 3 m.

Bangsa Malvales, suku Malvaceae. Tumbuhan berupa herba atau semak berkayu lunak, atau berupa pohon seringkali dilindungi oleh rambut-rambut bintang. Daun berseling berlobi menjari. Bunga biasanya biseksual, bersimetri banyak, mencolok,dapat soliter atau sebagai bunga majemuk. Kaliks berlobi lima, seringkali didukung oleh epikaliks. Petala 5,besar umumnya terpuntir. Stamen banyak, dalam satu berkas, tabung stamen tampak jelas, menutup ginaecium, antara satu lokulus dengan serbuk sari yang berdui. Ovaria lima  sampai banyak karpela sebanyak jumlah  stilus atau cabang stilus. Buah umumnya berupa buah kapsular atau sizokarpus. Embrio melengkung  dengan endosperm.

Suku ini terdiri lebih dari 80 genera. Beberapa jenis  Hibiscus banyak digunakan sebagai tanaman hias karena bunganya yang cukup menarik, misalnya, Hibiscus rosa sinensis L., Hibiscus schizopetalus Hook. F. Gossypium dan beberapa hibridnya merupakan penghasil kapas (Sudarsono.2005: 136-137).

Batang:

Bulat, berkayu, keras, diameter ± 9 cm, masih muda ungu setelah tua putih kotor.
Daun : Tunggal, tepi beringgit, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 10-16 cm, lebar 5-11 cm, hijau muda, hijau

Bunga:

Tunggal, bentuk terompet, di ketiak daun, kelopak bentuk lonceng, berbagi lima, hijau kekuningan, mahkota terdiri dari lima belas sampai dua puluh daun mahkota, merah muda, benang sari banyak, tangkai sari merah, kepala sari kuning, putik bentuk tabung, merah.

Bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari.  Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm. hingga 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat steril dan tidak menghasilkan buah.

Buah : Kecil, lonjong, diameter ± 4 mm, masih muda putih setelah tua coklat..

Biji : Pipih, putih . Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima. Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur.

Akar : Tunggang, coklat muda.

Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu.

Di Sumatera dan Malaysia, kembang sepatu disebut bunga raya. Bunga ini ditetapkan sebagai bunga nasional Indonesia pada tanggal 28 Juli 1960. Orang Jawa menyebutnya kembang worawari.Tanaman berkembang biak dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan.

2.Anatomi

Daun terdiri dari epidermis atas, kolenkim, rambut penutup, mesofil dengan hablur kalsium oksalat bentuk roset, berkas pembuluh, palisade dengan hablur kalsium oksalat, jaringan bunga karang, stomata, dan epidermis bawah.Epidermis atas terdiri dari satu lapis sel berbentuk empat persegi panjang kadang – kadang diselingi lendir, lebih besar dari sel epidermis lainnya; rambut penutup jarang, berbentuk bintang dan mempunyai sel tunggal, dinding tebal.
Epidermis bawah terdiri dari satu lapis sel yang serupa dengan sel epidermis atas; stomata hanya terdapat pada epidermis bawah. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel; jaringan bunga karang berbentuk tidak teratur terdiri dari beberapa lapis sel, berongga; berkas pembuluh tipe kolateral. Pada sayatan paradermal tampak epidermis atas berbentuk poligonal, dinding antiklinal rata. Epidermis bawah dinding antiklinalnya berombak; stomata tipe anisositik.

3.Fisiologi

Hibiscus rosa-sinensis merupakan tumbuhan C4. Dinamakan demikian karena tumbuhan itu mendahului siklus Calvin dengan fiksasi karbon cara lain yang membentuk senyawa berkarbon empat sebagai produk pertamanya. Dalam tumbuhan C4, terdapat 2 jenis sel fotosintetik yang jelas berbeda, yaitu:

a. sel seludang-berkas pembuluh

b. sel mesofil.

Sel seludang berkas pembuluh disusun menjadi kemasan yang sangat padat di sekitar berkas pembuluh. Di antara seludang berkas pembuluh dan permukaan daun terdapat sel mesofil yang disusun lebih longgar. Siklus Calvin terbatas pada kloroplas seludang berkas pembuluh. Akan tetapi, siklus ini didahului oleh masuknya CO2 ke dalam senyawa organik dalam mesofil. Langkah pertama ialah penambahan CO2 pada fosfoenolpiruvat (PEP) untuk membentuk produk berkarbon empat, yaitu oksaloasetat. Enzim PEP karboksilase menambahkan CO2 pada PEP. Dibandingkan dengan rubisko, PEP karboksilase memiliki afinitas yang jauh lebih tinggi terhadap CO2. Oleh sebab itu, PEP karboksilase dapat memfiksasi CO2 secara efisien ketika rubisko tidak dapat melakukannya, yakni ketika hari panas dan kering dan stomata tertutup sebagian, menyebakan konsentrasi CO2 dalam daun berkurang dan konsentrasi O2 meningkat. Setelah CO2 difiksasi, sel mesofil mengirim keluar produk berkarbon empatnya ke sel seludang berkas pembuluh melalui plasmodesmata. Dalam sel seludang berkas pembuluh, senyawa berkarbon empat melepaskan CO2 yang diasimilasi ulang ke dalam materi organik oleh rubisko dan siklus Calvin. Akibatnya, sel mesofil akan memompa CO2 ke dalam seludang berkas pembuluh, mempertahankan konsentrasi CO2 dalam sel seludang berkas pembuluh cukup tinggi agar rubisko dapat menerima karbon dioksida, bukan oksigen. Dengan cara ini, fotosintesis akan meminimumkan fotorespirasi dan meningkatkan produksi gula .

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fotosintesis :

a. Suhu

b. intensitas cahaya

c. konsentrasi CO2

Semakin besar faktor-faktor tersebut membawa akibat semakin besarnya laju fotosintesis.

D. Manfaat

a. Kandungan kimia
Daun, bunga, dan akar Hibiscus rosa sinensis mengandung flavonoida. Di samping itu daunnnya juga mengandung saponin dan polifenol, bunga mengandung polifenol, akarnya juga mengandung tanin, saponin, skopoletin, cleomiscosin A, dan cleomiscosin C.

Daun : flavonoida, saponin dan polifenol

Bunga : flavonoida, polifenol

Akar : flavonoida, tanin dan saponin

b.Kegunaan dan khasiat
Daun H. rosa sinensis berkhasiat sebagai obat demam pada anak-anak, obat batuk, dan obat sariawan. Daun Hibiscus rosasinensis berkhasiat sebagai obat demam pada anak-anak, obat batuk, dan obat sariawan. Oleh masyarakat Nigeria, daun H. rosasinensis digunakan sebagai penambah vitalitas pria (aprodisiaka). Dada et al., 2007, membuktikan bahwa ekstrak etanolik daun tanaman ini memberikan efek anabolik dengan ditandai adanya peningkatan berat badan tikus (22 %) serta bobot testis, epididymis, seminal vesicle dan prostate. Ekstrak  etanolik bunga tanaman ini juga dilaporkandapat menurunkan kadar kolesterol darah total dan serum trigliserida (20-30 %) serta meningkatkan level HDL hingga 12 % dan menurunkan kadar gula darah (Sachdewa A, and Khemani LD., 2003).

Kembang sepatu banyak dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga digunakan untuk menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan. Di Tiongkok, bunga yang berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan. Di Indonesia, daun dan bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Kembang sepatu yang dikeringkan juga diminum sebagai teh.

Di Okinawa, Jepang digunakan sebagai tanaman pagar. Di bagian selatan Okinawa, tanaman ini disebut Gushōnu hana (bunga kehidupan sesudah mati?) sehingga banyak ditanam di makam.

2.2. BUNGA SEDAP MALAM (Polianthes tuberosa)

A. foto

B.Sistematika taksonomi

            Kedudukan  tumbuhan bunga sedap malam dalam tingkatan taksonomi, tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom: Plantae

Divisi: Spermathophyta

Subdivisi: Angiospermae

Kelas: Monocotiyledone

Ordo: Amaryllida

Familly: Amarylidaceae atau liliaceae

Genus: Polyanthes

Spesies: Polyanthes tuberosa L.

 C.Deskripsi

Bunga yang berasal dari Meksiko ini juga disukai di manca negara. Masyarakat Jepang menggunakan bunga sedap malam sebagai lambang cinta. Di Thailand, bunga yang harum di malam hari ini adalah kesayangan para perangkai bunga karena sifatnya yang harum dan tidak mudah layu.

Masyarakat Eropa memakai bunga bernama Latin Polianthes tuberosa Linnini dalam upacara keagamaan. Tak heran bila bunga yang dikenal di luar negeri dengan nama tuberosa ini dijumpai menghiasi altar di gereja-gereja.

Bunga Sedap Malam tumbuh merumpun dengan tinggi sekitar 0,5 – 1,5 meter. Serumpun batangnya tumbuh dari satu atau beberapa umbi induk dan beberapa umbi anak. Umbi ini merupakan batang semu sekaligus sebagai penyimpan makanan. Umbi bunga Sedap Malam juga digunakan untuk perbanyakan tanaman secara vegetatif.

Daun bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) berbentuk panjang pipih berwarna hijau mengkilat di bagian permukaan atas dan hijau muda pada bagian permukaan bawah daun. Pada pangkal daun terdapat bintik-bintik berwarna kemerah-merahan. Daun dapat berukuran hingga sepanjang 60 cm.

Tangkai bunga muncul di ujung tanaman berbentuk memanjang dan beruas-ruas. Di setiap ruas muncul daun bunga yang berbentuk pipih memanjang dengan ukuran lebih kecil dari daun biasa. Pada tangkai bunga melekat 5-12 kuntum bunga (terkadang lebih) dengan mahkota bunga berwarna putih dan sedikit kemerahan di bagian ujung. Mekarnya bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) tidak serempak melainkan berurutan. Kuntum bunga bagian bawah akan mekar terlebih dahulu lalu menyusul kuntum-kumtum bunga di atasnya secara berurutan.

Bunga Sedap Malam dikenal memiliki kesegaran yang mampu bertahan lama. Meskipun telah dipotong bunga yang menjadi flora Identitas provinsi Jawa Timur ini kesegarannya dapat bertahan selama 5-10 hari.

Kerabat dekat dari sedap malam adalah jenis bakung-bakungan (Amarillidaceae). Jenis ini cukup banyak diantaranya bakung biru (Agapanthus aprikanus L), bakung laut (Crimun astatikum),bunga september (Euriclus alba) dan bunga lili (Lilium longiforum).

Susunan tubuh tanaman sedap malam terdiri atas akar, batang sebenarnya (Disus), umbi (batang semu), daun dan tangkai bunga lengkap dengan kuantum bunganya. Sistem perakaran sedap malam menyebar kesegala arah pada radius ke dalaman 40-60 cm akarnya bersifat serabut yang keluar dari batang utama (Diskus). Umbi merupakan batang semu yang berubah bentuk dan berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Tiap rumpun tanaman sedap malam terdiri atas beberapa umbi atau satu umbi induk dan juga sekumpulan umbi anakan, biasanya umbi induk berukuran lebih besar,lapisan umbinya (Bulbus) tidak begitu jelas, warna dagingnya putih bersih. Umbi-umbi ini dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetatif.

Daun tanaman sedap malam bentuknya panjang dan pipih berwarna hijau mengkilap pada bagian permukaan atas dan hijau muda pada bagian permukaan bawah daun pada pangkal daun terdapat bintik berwarna kemerah-merahan. Siklus tanaman sedap malam termasuk semusim atau setahun tetapi dapat tumbuh lebih dari setahun. Pada fase reproduksi akan muncul bunga dan ujung tanaman (titik tumbuh) yang ukuran panjangnya dan beruas-ruas, tiap ruas terdapat daun bunga bentuknya panjang dan pipih dengan ukuran lebih kecil daripada daun biasa. Tiap tangkai bunga melekat 5-12 kuntum bunga atau lebih yang mekarnya tidak bersamaan, warna mahkota bunga putih bersih namun adapula yang berwarna kemerah-merahan. Pemberian nama bunga sedap malam diduga karena bunganya menebar aroma. Wangi pada malam hari, bila tangkai bunga sedap malam dipotong bersama kuntum bunga yang sebagian sudah mekar akan mampu bertahan selama 5-10 hari. Sedap malam termasuk tanaman yang banyak mengandung air atau skulen (Herbaceaus). Selama siklus hidupnya mengalami beberapa fase pertumbuhan. Sejak umbi ditanam mengalami fase perkecambahan yang berlangsung antara 1-2 minggu setelah tanam. Pada umur 3-5 minggu daunnya mulai tumbuh, kemudian pada umur 16-20 minggu setelah tanam pertumbuhan daunnya sudah tumbuh optimal.

Pada umur 24-26 minggu mulai keluar tangkai bunga dari ujung tanaman induk,tangkai bunga dibiarkan tumbuh alami hingga kuntum bunganya berguguran maka pada saat yang bersamaan mulai terbentuk umbi anakan, umbi anakan ini tumbuh menjadi tanaman muda pada umur 36 minggu, anakan yang sudah berumur 7-9 bulan tidak dapat digunakan sebagai anakan bibit.

Pemanfaatan bunga sedap malam (Polianthes tuberosa).

Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Bunga ini banyak dimanfaatkan sebagai bunga potong untuk berbagai keperluan. Selain itu bunga Sedap Malam juga dapat diolah sebagai bahan pembuat parfum. Sedap malam lebih dikenal sebagai bunga hias. Wanginya yang seharum melati bermanfaat menenangkan hati orang di sekitarnya. Namun, sebenarnya bunga sedap malam punya sejumlah manfaat untuk kesehatan, mulai dari mengobati keluhan susah tidur, influenza, sampai rematik.

Bunga yang berasal dari Meksiko ini juga disukai di manca negara. Masyarakat Jepang menggunakan bunga sedap malam sebagai lambang cinta. Di Thailand, bunga yang harum di malam hari ini adalah kesayangan para perangkai bunga karena sifatnya yang harum dan tidak mudah layu.

Masyarakat Eropa memakai bunga bernama Latin Polianthes tuberosa Linnini dalam upacara keagamaan. Tak heran bila bunga yang dikenal di luar negeri dengan nama tuberosa ini dijumpai menghiasi altar di gereja-gereja.

Keharumannya yang tak kalah dengan bunga melati membuat sedap malam dijuluki di luar negeri sebagai dangerous pleasure(kesenangan yang berbahaya). Tidak jelas mengapa disebut demikian. Namun, ada tahayul kuno di Perancis yang melarang anak gadis menghirup wangi bunga ini di kala malam karena akan membawa suasana romantis dalam diri mereka. Larangan yang sama juga berlaku di India dengan alasan yang sama pula, sehingga bunga ini diberi nama rat ki rani (kekasih gelap).

Meski ada kepercayaan demikian di India, pengobatan kuno dari India, Ayurveda, mengakui khasiat bunga yang juga disebut orang Sunda sebagai sundel malam ini bagi kesehatan. Menurut Ayurveda, sedap malam dikenal bisa memperbaiki ketenangan pikiran seseorang. Bunga ini bisa membuka chakra mahkota, sehingga memperbaiki kekuatan fisik seseorang.

Sedap malam juga memperkuat inspirasi artistik dalam diri seseorang karena kemampuannya menstimulasi sisi kanan otak yang mengurusi bagian kreativitas. Dari stimulasi di otak kanan itu sedap malam memberi ketenangan di pikiran dan hati.

Pada pengobatan tradisional masyarakat Indonesia tidak ada penjelasan seperti dalam Ayurveda. Namun, nenek moyang kita telah menggunakan keharuman bunga yang juga bernama Yek Lai Siang ini untuk menenangkan hati di kala perkabungan.

Hiasan bunga sedap malam pada upacara perkawinan di Indonesia memberi gairah tersendiri untuk pasangan pengantin baru. Praktik ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Bahkan para pengelola spa menaburkan petikan bunga di kolam pemandian untuk memberi ketenangan pada orang yang berendam.

Menurunkan Panas

Sayangnya, tak seperti lavender yang minyak esensialnya dikenal luas menenangkan pikiran, minyak esensial bunga sedap malam sulit didapat. Menurut Lisa Maliga, seorang penulis di The Chamomile Times and Herbal News, tidak ada “minyak esensial” bunga sedap malam. Sebab, bunga ini tidak tahan terhadap temperatur tinggi ketika disuling menjadi minyak esensial.

Secara ilmiah, baru sedikit manfaat untuk kesehatan yang terungkap dari bunga sedap malam. Dari Ensiklopedia Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesiayang ditulis oleh Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, pakar pengobatan tradisional dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, diketahui bahwa sedap malam bersifat manis, sejuk, dan sedikit tawar. Tanaman ini berkhasiat menurunkan panas (antipiretik) dan menghilangkan bengkak. Sementara itu, kandungan kimia yang diketahui adalah sapogenin.

Bagian tanaman yang dipakai sebagai obat adalah bagian bunga dan akar. Keduanya bisa diolah untuk pemakaian luar dan dalam. Prof. Hembing menyarankan agar pengobatan dengan ramuan sedap malam ini dilakukan secara teratur. Namun, penderita penyakit serius dan berat sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter.

2.3. BUNGA MELATI(Jasminum sambac L.)

A.Foto

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Scrophulariales
Famili: Oleaceae
Genus: Jasminum
Spesies: Jasminum sambac L.

  • Habitat bunga melati ini adalah di tanah yang gembur, dengan ketinggian 600-800 meter diatas permukaan laut, asalkan mendapat cukup sinar matahari. Tumbuhan melati ini tumbuh dalam hutan dan biasa ditanam di halaman.
  • Melati (Jasminum sambac (L.) Ait ) merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indosenia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai “puspa bangsa” atau simbol nasional yaitu melati putih. Tanaman perdu yang memanjat atau menggantung,tinggi 0,3-10 m. Tangkai daun pendek, lk di tengahnya beruas, berambut; tangkai dari pasangan daun yang sama dihubungkan dengan tonjolan melintang. Daun menyirip berdaun 1; helaian daun lebar bulat telur sampai memanjang, bertepi rata, 2,5-13 kali 1,5-6 cm, bertulang menyirip atau bertulang 3-5. Bunga bertangkai putik tidak sama, berbau harum, dalam anak payung berbunga 3-15, di ujung atau di ketiak, lebat. Tabung kelopak tinggi 2-4 mm; taju 5-8, betuk garis sempit. Mahkota bentuk terompet; tabung bulat, panjang 2-2,5 cm, sering kekuning-kuningan, taju 6-9, putih bening, memanjang bentuk lancet, runcing, panjang 1-2 cm. Tangkai putik dalam bunga yang bertangkai putik pendek sangat pendek. Buah buni yang masak hitam mengkilat, panjang lk 1 cm, berlekuk dan berbiji dua, atau karena kegagalan berbiji satu dan tidak berlekuk.
  • Ada banyak manfaat yang dapat di ambil dari bunga ini antara lain, sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan campuran atau pengharum teh, seperti teh melati yang populer di Indonesia.
  • Kandungan kimia dari bunga melati ini adalah mengandung senyawa-senyawa unsur kimia yang besar manfaatnya untuk pengobatan. Kandungan kimia yang ada antara lain indol, benzyl, livalylacetaat.

2.4.BUNGA KENANGA (Cananga odorata)

A.   Foto

B.   Sitematika taksonominya

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Ordo: Magnoliales

Famili: Annonaceae

Genus: Cananga

Spesies:Cananga odorata

  • Habitat

Tumbuhan ini termasuk jenis pohon. Tumbuh di dataran rendah mulai ketinggian 25-1000 meter di atas permukaan laut.

  • Deskripsi

Pohon, Kenanga (Cananga odorata) adalah tumbuhan berbatang besar berdiameter 0,1-0,7 meter dengan usia puluhan tahun. Mempunyai batang getas (mudah patah) pada waktu mudanya. Tinggi pohon mencapai 5-20 meter. Bunganya mucul pada batang pohon atau ranting bagian atas dengan susunan bunga majemuk dengan garpu-garpu. Bunga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning,bentuk lanset, panjang 5-7,5 cm, dilengkapi 3 daun berwarna hijau.Dasar bunga cekung sedikit. Bunga dalam karangan bunga yang berbentuk payung, pendek menggantung, duduk di ketiak. Aromanya harum dan khas. Daun kelopak hampir lepas, dalam kuncup bersambungan secara katup, bulat telur segitiga yang lebar, menggulung keluar.Daun bertangkai, bulat telur atau memanjang, dengan ujung runcing-meruncing dan kerapkali miring, pangkal membulat atau bentuk jantung, 10-23 kali 4,5-14 cm. Benang sari banyak, penghubung ruang sari di atas ruangnya diperpanjang dan menutupi, coklat muda.Bakal buah banyak, lepas. Kepala putik bentuk tombol. Buah 7-15,perkembangannya tidak sama, bulat telur terbalik, panjangnya lk 2 cm, hijau tua.

  • Manfaat dari bunganya

Bunga ini banyak mengandung minyak yang khas aethrisnya kenanga yang diberi nama minyak ilang-ilang, sehinnga dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit malaria dan asma, sesak nafas, bronkhitis, jamu sehat setelah melahirkan,dll.

          2.5.Mawar Merah (Rosa chinensis)

A. Foto            

( Gambar Bunga Mawar Merah )

B. Sistematika taksonomi :

Klasifikasi :

Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Rosales

Famili: Rosaceae

Genus: Rosa

Spesies : Rosa chinensis

C.Deskripsi :

Mawar adalah tanaman semak dari genus  Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanamanini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter.

Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2-5 meter.

Sebagian besar spesies mempunyai daun yangpanjangnya antara 5-15 cm. Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri daripaling sedikit 3-5 anakdaun dan daun penumpu ( stipula ) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawarsebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya.

Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi-tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ketanah. Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun.

Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak.

Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau seranggalain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan.Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam.

Pada beberapa spesies seperti Rosa caninadan dan Rosa rugosa menghasilkan buah rose hips yang sangat kaya dengan vitamin C bahkan termasuk di antara sumber vitamin C alami yang paling kaya. Buahrose hips disukai burung pemakan buah yang membantu penyebaran biji mawar bersamakotoran yang dikeluarkan.Beberapa jenis burung seperti burung Finch juga memakan biji-biji mawar.

Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa spesies yang tumbuh liar di tanah berpasir di daerah pantai seperti Rosa rugosadanRosa pimpinellifolia beradaptasi dengan duri lurus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat dimakan binatang, menahanpasir yang diterbangkan angin dan melindungi akardarierosi .Walaupun sudah dilindungi duri, rusak kelihatannya tidak takut dan sering merusak tanaman  mawar.Beberapa spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam.

Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies.Ovarinya berada di bagian bawah daun mahkota atau daun kelopak. Bunga menghasilkan buah agregat ( berkembang darisatu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal, sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan memanjat tumbuhan lain.

2.6. Kanthil.( Cempaka putih ) (Michelia alba )  

Gambar bunga Kanthil ( Cempaka putih )

Sistematika taksonomi :

Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Magnoliales

Famili: Magnoliaceae

Genus: Michelia

Spesies: Michelia alba

2.      Deskripsi

                   Kantil (Cempaka Putih) merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter. Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba dan masih berkerabat dekat dengan bunga jeumpa (cempaka kuning) ini merupakan tanaman khas (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah.

Mitos yang berkembang di masyarakat, aroma bunga kantil yang khas sangat disukai .Terlepas dari mitos tersebut, kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah baik dalam prosesi perkawinan maupun kematian.

Tanaman kantil mempunyai beberapa nama lokal di berbagai daerah di Indonesia. Nama-nama lokal tersebut diantaranya adalah cempaka putih, kantil (Jawa), cempaka bodas (Sunda), campaka (Madura), jeumpa gadeng (Aceh), campaka putieh (Minangkabau), sampaka mopusi (Mongondow), bunga eja kebo (Makasar), bunga eja mapute (Bugis), capaka bobudo (Ternate), capaka bobulo (Tidore).

Dalam bahasa Inggris, fauna identitas Jawa Tengah ini disebut White champaca. Di Filipina tanaman ini dikenal sebagai Tsampakang puti. Dalam bahasa ilmiah (latin) bunga kantil disebut sebagai Michelia alba yang bersinonim dengan Michelia longifolia (Blume).

Habitat dan Persebaran.Pohon kantil (cempaka putih) tersebar mulai daratan Asia beriklim tropis hingga beberapa pulau di kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini yang menjadi flora identitas provinsi Jawa Tengah ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.Habitat tumbuhan kantil meliputi daerah beriklim tropis pada dataran rendah hingga ketinggian mencapai 1.600 meter dpl.

Kantil ( cempaka putih ) merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter.Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba dan masih berkerabat dekat dengan bunga jeumpa (cempaka kuning) ini merupakan tanaman khas (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah.

Mitos yang berkembang di masyarakat, aroma bunga kantil yang khas sangat disukai. Bunga kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah baik dalam prosesi perkawinan maupun kematian.

Ciri-ciri. Pohon kantil mempunyai tinggi yang mampu mencapai 30 meter dan mempunyai batang yang berkayu.Pada ranting-ranting pohon cempaka putih biasanya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan.

Daun Cempaka berbentuk telur taji. Bagian bawah daun yang hijau itu terdapat bulu halus. Tiap kuncup daun dilindungi oleh 2 daun pelindung. Untuk bunga, warnanya putih, kuning, atau merah. Bentuknya seperti bunga Tulip. Buahnya ternyata enak untuk dimakan. Dalam pertumbuhannya, buah menjadi bulir panjang yang terdiri atas buah kecil- kecil berbentuk jantung. Biji dalam buah itu rasanya pahit. Kayunya sangat bagus untuk digunakan sebagai bagian dari bangunan rumah. Hanya saja, belum banyak orang yang menggunakan kayu Cempaka untuk kebutuhan tersebut.

Daun kantil (cempakaputih) tunggal berbentuk bulat telur dan berwarna hijau. Tangkai daun lumayan panjang,mencapai hampir separo panjang daunnya. Kantil (Micheliaalba) mempunyai bunga berwarna putih yang mempunyai bau harum yang khas. Tanaman yang ini jarang ditemukan mempunyai buah karena itu perbanyakan dilakukan secara vegetative.

Manfaat bunga kantil .Bunga Kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Bunga Kantil banyak di gunakan pada upacara perkawinan terutama sebagai hiasan sanggul dan keris. Selain itu bunga kantil juga digunakan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar). Dalam bahasa Jawa, kantil berarti menggantung seperti halnya bunga ini. Bunga Kantil mempunyai makna ritual ‘kemantilkantil’ yang berarti selalu ingat dimanapun berada dan selalu mempunyai hubungan yang erat sekalipun sudah berbeda alam.

Secara medis, bunga, batang, daun kantil (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina dan liriodenina yang mempunyai khasiat sebagai ekspektoran dan diuretik. Karena kandungan yang dipunyainya, kantil dipercaya dapat menjadi obat alternatif bagi berbagai penyakit seperti bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, prostata, infeksi saluran kemih, dan sulit kencing.

Sayangnya khasiat yang dipunyai oleh bunga cempaka putih ini belum tereksplorasi secara maksimal. Sehingga meski saat ini mulai ada yang berusaha membudidayakan tanaman ini tetapi pemanfaatannya lebih banyak untuk acara-acara spiritual dan tradisi.

Menyimak mitos dan kandungan medis yang menyertai fauna identitas provinsi Jawa Tengah ini, kini tergantung kepada masing-masing kita. Apakah lebih mempercayai tanaman ini sebagai rumah kuntilanak atau justru menyadari khasiat medis sebagai obat alternatif yang amat bermanfaat.

Pengantin di pulau Jawa sering menggunakan bunga Cempaka pada ujung untaian bunga melati yang menghias rambut mempelai perempuan. Bunga Cempaka atau kerap disebut Kantil dalam Bahasa Jawa, memang bentuknya indah dan berbau harum.

Daun Cempaka berbentuk telur taji. Bagian bawah daun yang hijau itu terdapat bulu halus. Tiap kuncup daun dilindungi oleh 2 daun pelindung. Untuk bunga, warnanya putih, kuning, atau merah. Bentuknya seperti bunga Tulip. Buahnya ternyata enak untuk dimakan. Dalam pertumbuhannya, buah menjadi bulir panjang yang terdiri atas buah kecil- kecil berbentuk jantung. Biji dalam buah itu rasanya pahit. Kayunya sangat bagus untuk digunakan sebagai bagian dari bangunan rumah.

Kulit kayunya berwarna coklat. Jika dibelah, warnanya kuning muda dan mudah terpecah. Bila dirasakan, kayu Cempaka terasa pahit dan agak wangi. Sedangkan, untuk kulit akarnya, warnanya merah, rasanya pahit, dan sangat tajam. Di dalam kulit dan daunnya, terdapat kandungan alkaloida dan zat samak. Kulit kayu dan akarnya juga mengandung damar. Asam damar juga terdapat pada bijinya, selain kandungan olein. Bunganya yang harum itu, terdapat minyak terbang (cheraniol, linalol, methuleugenol, asam benzoe, nerol, dan methulaethulazijnzuur).

2.7. Cempaka (Michelia champaca )

 

( Gambar tanaman cempaka )

Sistematika taksonomi :

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas :  Magnoliopsida

Ordo : Magnoliales

Family :  Magnoliaceae

Genus : Michelia

Species : Michelia champaca Lin

Deskripsi :

            Cempaka atau Michelia champaca berasal dari India. Pohon berukuran sedang dengan tinggi sampai dengan 50 meter dan diameter batangnya sampai dengan 1,8 meter. Batang lurus, bulat, kulit batangnya halus, bewarna coklat keabu-abuan.
Habitat:

             Cempaka tumbuh di tanah yang subur pada ketinggian hingga 1500 mdpl.

Nama Daerah :

Jawa  : Cempaka,  Cempaka  koneng  (  Sunda); Kantil, Locari,  Pecari,  Cempaka,  Cepaka, Cepaka kuning (Jawa Timur); Kembhang  koneng, Campaka, Compaka, Compaka radium(Madura);Sulawesi:Campakamariri(SulawesiUtara).Sumatera:Cempaka,Jeumpa,Cempaka Kuning(Aceh);Jempa,Cempa (Gayo);Campaga (Minangkabau); Campaka arsenic (Batak); Hepaka, Kepaka ( Sawu); Sampakang (Sangir);  Sinonim:Michelia pilifera auct. Non DC; Michelia  pilifera  Bakh  F.; Michelia pubinervia Blume, M. velutina Blume.

Sebaran :

Dunia  Penyebarannya  luas,  tidak  hanya  terbatas  di  propinsi  Aceh  saja,  bahkan mencakup  pula  India, Indo  Cina,  Indo  Cina,  Semenanjung  Malaya,  Sumatra,  Jawa  dan  Kepulauan  Sunda  Kecil. Sekarang sudah umum ditanam di seluruh daerah Tropika.

Deskripsi Pohon :

Habitus   :

Pohon berukuran sedang dengan tinggi sampai 50 m

Akar & Batang :

Akar    :  Akarnya  berwarna  putih  kehijauan  dan merupakan akar tunggang

Batang  :  Batang  lurus,  bulat,  kulit  batangnya halus,  berwarna  coklat  ke  abu-abuan. Tajuknya agak jarang, dan agak melebar, dengan  percabangannya  yang  tidak teratur, diameter  batangnya  sampai  180 cm .

Daun dan Bunga :

Daun  :  Daunnya  tunggal,  tersusun  spiral,  berbentuk  lanset  yang  agak  melebar,  berukuran  sedang, dan  berbulu  halus  pada  permukaan  bawahnya,  tangkainya  berbulu,  stipulanya  panjang seringkali melebihi tangkai daunnya dengan panjang daun 10-28 cm dan lebar 4,5-11 cm.

Bunga  :  Bunga tunggal, berwarna kuning muda ketika muda dan menjadi oranye tua ketika tua, harum, berukuran agak besar, helaian bunganya tersusun dalam untaian yang banyak.

Buah dan Biji :

Buah  :  Buah berbentuk bola memanjang, sedikit bengkok, mula-mula berwarna hijau kemudian menjadi pucat. Buahnya coklat terdiri atas 2-6 biji.

Biji  :  Biji masak berwarna merah tua dan tergantung keluar pada berkhas yang memanjang

Manfaat :

            Daun berkhasiat sebagai obat rematik. Kulit batang digunakan sebagai ramuan penambah nafsu makan. Kulit akar digunakan untuk mengatasi haid tidak teratur. Bunga berkhasiat sebagai obat keputihan dan kencing nanah. Kayunya  dapat  digunakan  sebagai  bahan untuk  membuat  panel  pintu  dan  peralatan  rumah  tangga,  dapat digunakan  sebagai  campuran  pada  jamu  atau  digunakan  untuk  wewangian  rambut  atau  diramu  bersama  bahan lain  untuk  dijadikan  parfum,  ada  juga  yang  menyarikan  minyak  cempaka  dari  bunganya  untuk  dipakai  dalam industri kosmetika.

BAB III.

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Tumbuhan  yang berdasarkan fungsi yang terkait dengan penggunaannya dalam upacara adat antara lain adalah bunga sepatu, bunga kenanga,bunga kantil,bunga melati, bunga cempaka, bunga sedap malam,bunga mawar, dan masih banyak bunga lainnya yang memiliki fungsi dan kegunaan dalam kehidupan sehari-sehari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bunga sepatu (Hibiscus rossa sinensis) merupakan bunga yang digunakan  sebagai bunga nasional Indonesia pada tanggal 28 Juli 1960. Orang Jawa menyebutnya kembang worawari.Tanaman berkembang biak dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan. Dan temasuk dalam genus hibiscus.

 Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa Linn) ini Bunga yang berasal dari Meksiko ini juga disukai di manca negara. Masyarakat Jepang menggunakan bunga sedap malam sebagai lambang cinta. Di Thailand, bunga yang harum di malam hari ini adalah kesayangan para perangkai bunga karena sifatnya yang harum dan tidak mudah layu. Masyarakat Eropa memakai bunga bernama Latin Polianthes tuberosa Linnini dalam upacara keagamaan. Tak heran bila bunga yang dikenal di luar negeri dengan nama tuberosa ini dijumpai menghiasi altar di gereja-gereja.

Bunga kenanga, kemudian bunga Melati (Jasminum sambac (L.) Ait ) merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indonesia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai “puspa bangsa” atau simbol nasional yaitu melati putih. Tanaman perdu yang memanjat atau menggantung,tinggi 0,3-10 m. Tangkai daun pendek, lk di tengahnya beruas, berambut; tangkai dari pasangan daun yang sama dihubungkan dengan tonjolan melintang.

Bunga Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2-5 meter. Bunga Kantil (Cempaka Putih) merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter. Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba dan masih berkerabat dekat dengan bunga jeumpa (cempaka kuning) ini merupakan tanaman khas (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah.

Mitos yang berkembang di masyarakat, aroma bunga kantil yang khas sangat disukai .Terlepas dari mitos tersebut, kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah baik dalam prosesi perkawinan maupun kematian. Jadi dengan adanya penelitian ini dengan berbagai sumber kita bisa mengetahui beberapa manfaat dan kegunaan dari berbagai tumbuhan yang berdasarkan fungsi.

DAFTAR  PUSTAKA

Ajo.2009.(online).http://Ajo.wordpress.com/tgl akses 20-maret-2012

Anonimous.2009.http//www.inforedia.com/tgl akses 19-maret-2012

Anonimous .2011.http//kouzinet.blogspot.com/tgl akses 19-maret-2012

Tjitrosoepomo,Gembong.1989. taksonomi tumbuhan.yogyakarta: UGM

Sabithah,s.1999. taksonomi tumbuhan. Yogyakarta: fakultas biologi UGM

Sudarsono,dkk.2005.taksonomi tumbuhan tinggi.malang: UM press

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s